Mama

Tiba-tiba teringat mama. Bukan dalam rangka hari ibu yang sedang terkena pergeseran makna itu. Udah lewat juga seminggu lalu. Di Indonesia kan gitu, orang-orangnya memorable, tapi cuma pas momen itu aja.

Nggak, saya lagi ingat mama yang di rumah, yang pasti lagi kangen banget sama saya yang nggak sempat pulang ini karena harus liputan sana-sini. Yang harus sendirian di kota orang dan nggak bisa pulang seenak jidat karena ingat tanggung jawab.

Tanggung jawab. Itu yang selalu mama ajarkan pada saya. Mulai dari tanggungjawab beresin kamar sendiri, cuci piring bekas makan sendiri, cuci tangan dan kaki juga sikat gigi sebelum tidur, dan beribadah kepada Tuhan.

Tanggung jawab, yang bisa bikin saya nggak pulang berbulan-bulan. Yang semoga nggak mama sesali, tapi malah disyukuri. Yang bisa jadi bukti kalau ajarannya dipatuhi.

Saya tahu mama kangen, saya juga kangen mama. Saya tahu mama banyak cerita, begitu juga saya. Saya tahu mama pengen peluk saya, apalagi saya. Mama kini jadi satu-satunya perempuan di rumah, nggak ada saingan, tapi selalu cari saingan, ya, saya.

 

Love,

Tyas

Emoticon

Seuprit macem upil. Tapi maknanya banyak. Dulu saya nggak suka pake emoticon, tapi keadaan kini memaksa. Ketika badai kata-kata tidak lagi bermakna, ketika apa yang ditik bisa hilang begitu saja di otak. Tidak dengan emoticon. 

Kalau udah paham saya, emoticon yang saya ketik itu bisa bermakna banyak. Seperti:

:) Senyuman manis dari hati. Bener-bener dari hati. Biasanya saya tik kalau abis dibantuin. Dari hal sepele tanya nomer hape sampe kalo lagi curhat.

:D Cengiran lucu yang menampakkan gigi geligi saya, terutama gigi taring yang menonjol macem vampir itu. Biasanya kalo ketawa, tapi nggak guling-guling, ketawa aja. 

Udah sih itu aja emot yang biasa saya pakai. Nggak macem-macem. Saya itu sederhana sekali ternyata. Argh postingannya jadi nggak rame.

Luar Negeri

Semakin banyak kawan saya yang kepingin belajar di luar negeri, saya makin jengah dan nggak mau. Kepingin sih tahu budaya luar itu kayak apa? Tapi budaya negeri sendiri aja masih belum tau. Kepingin sih bawa misi sebar luas kebudayaan negeri sendiri di luar, tapi kok kayaknya masih belum sanggup ya?

Saya tahu apa soal Indonesia? Orang masih skeptis sama tata negara dan pemerintahannya. Orang masih kagum sama warisan budaya dan alamnya tapi belum bisa melakukan apa-apa buat melestarikan dan memperkenalkannya di negeri sendiri?

Bukannya skeptis sama diri sendiri, tapi justru jadi motivasi buat mencintai apa yang sudah Tuhan berikan sama saya sampai sejauh ini, Indonesia.

Mau Berhenti

Bicara soal cinta dan percintaan. Sudah cukup di kehidupan nyata, menertawakan segala hal mengenai cinta. Sudah cukup bicaranya, apa lagi yang harus dituliskan?

Cinta memang selalu membawa inspirasi, apalagi kalau musuhnya lawan jenis. Tapi rawan multitafsir kalau menuliskannya di linimasa.

Dinikmati, saja, Tyas. Sesekali dipahami. Kadang hidup lebih menyenangkan ketika direnungkan.

Pikirkan saja tugas-tugas yang menumpuk itu. Nanti, jika sudah waktunya, mungkin bisa menuliskannya dengan kalimat yang lebih baik.

Nanti, nikmati dulu.

Pantas saja saya masih betah sendiri, ya.

Life of Pi: Hidup Tiga Koma Empatbelas dalam Dua Jam

121121_MOV_LifeofPi.jpg.CROP.rectangle3-large

Pertama tahu film ini dari Twitter, gara-gara kawan-kawan Jurnal 2010 yang udah nonton pada semangat posting dan berkomentar kalo film ini keren tiada tara. Terus buka blog Kak Teppy yang biasa kasih spoiler film-film baru dan dia berkomentar dengan sinis-realistis – dia bilang nggak ada cacat di film ini. Duh! Makin penasaran. Apalagi setelah tahu di Jatos udah nggak ada lagi film-nya.

Kemaren diajak nge-Bandung sama Harith, dengan semangat 45 dan nggak mikirin dompet, saya akhirnya nonton juga, versi 3D. Hasilnya? Saya olohok sepanjang dua jam film ini berlangsung.

Nggak paham lagi si pengarang Life of Pi ini dapet ide cerita darimana bisa menghasilkan kisah yang demikian mengalir, batas antara fakta dan fiksi menjadi bias, yang justru menjadi kekuatan bagi saya. ketika divisualkan, permainan sinematografi dan efek-efek canggih film masa kini bikin saya berkali-kali nahan napas dan gatel banget pengen nyalamin sutradaranya.

Kisah film ini sederhana, tentang hidup seseorang yang biasa-biasa saja, bernama Pi. Pi keturunan India, yang bagian tajirnya. Di awal diceritakan keluarganya punya Kebun Binatang, kemudian harus pindah ke Kanada (sama binatang-binatangnya) gara-gara tanah untuk Kebun Binatangnya itu dimiliki oleh pemerintah. Pi, yang baru kenal sama perempuan awalnya berat banget ninggalin India, tapi akhirnya ia berangkat, pakai kapal pengangkut bikinan Jepang.

Kemudian datang badai, Pi tengah bermain-main dengan hujan kala itu. Dia nggak sadar kalo kapalnya karam. Ketika sadar, doi langsung lari ke kamar keluarganya tidur lelap. Sayang, keluarganya nggak terselamatkan. Dia berusaha menyelamatkan dirinya, tapi lagi-lagi Pi dapet musibah. Ia selamat sendirian dari tragedi kapal karam itu, bener-bener sendirian, yang manusia. Sialnya, yang selamat selain Pi itu Zebra, Hyena, sama Macan Bengali punya keluarganya itu.

Kisah dimulai, ia terkatung-katung ratusan hari di laut. Pi berusaha keras biar nggak menyerah terus mati. Ia bisa bertahan hidup dari makanan bantuan yang ada di sekoci yang ditumpanginya. Masih sial, si macan bertahan juga di sekoci. Pi nggak mungkin tidur satu sekoci sama si macan kan? Naluri membunuh makhluk hidup ketika kelaparan terlihat jelas disini. Pi nggak mau dirinya jadi korban gitu aja, makanya dia hidup di rakit yang ia bangun sendiri, harus kebasahan dan kedinginan, kadang diserang Hiu.

Selama ratusan hari itu juga, Pi berusaha mengakrabkan diri dengan si macan. Dia sadar kalo macan itulah yang ngebikin doi tetep sadar sebagai manusia. Pi punya temen ngobrol, Pi masih bisa ngerasain ketakutan dan kewaspadaan, padahal si macan nggak bisa bales ngobrol sama dia, yang ada Pi nyaris dimakan mulu. Bareng si macan, Pi bertahan dan bertanya pada Tuhan, apa lagi yang mau Tuhan kasih ke dia? Tuhan udah ambil segalanya dari hidup dia, waktu badai besar menghantam dia di laut.

Scene itu, gue termenung. Pi udah ngalamin kejadian dahsyat dalam hidupnya. Dia survival sendirian di laut dan harus berbagi sama binatang buas yang jelas-jelas bakal makan dia kalo udah nggak ada makanan lain. Dia harus makan daging padahal dia vegetarian. Dia kelaparan dan kedinginan juga dihantui perasaan was-was selama ratusan hari. Nggak sedikitpun ia mempertanyakan kehidupannya sama Tuhan, kecuali momen itu, dimana ia udah ngerasa bakal mati, nyawanya bakal diambil, dan doi bilang kalo doi siap, mau nyusulin keluarganya.

Tapi Tuhan masih sayang Pi, Pi didamparkan di sebuah pulau terapung yang nyimpen air bersih sama umbi-umbian buat dimakan. Jelaslah doi seneng banget, hidupnya kayak udah tenang dan nggak ada gangguan. Doi juga udah bisa tidur jauhan sama si macan. Tapi ada yang aneh di pulau itu, ketika malam, hewan-hewan yang ada di sumber air bersih tersebut kayak digerogotin sesuatu, mati semua, bahkan hewan-hewan yang hidup di atasnya menghindar dan bersembunyi di atas pohon ketika malam datang.

Di scene pulau ini, gue terhenyak (lagi). Jadi ketika gue tonton sampe akhir, Pi bilang kalo disitulah titik balik hidupnya. Ketika Pi udah sampe di titik nyaman hidupnya, dikala ia udah bisa tidur dalam kondisi kenyang dan kering, ia bisa ambil resiko kembali ke laut dan mencari kehidupan yang pasti. Pulau itu nggak menjanjikan apapun. Ia nggak bisa hidup sendirian. Apalagi ia sempet berpikir dan narik kesimpulan kalo malem, pulau itu nyimpen asam yang sangat tinggi, makanya ikan-ikan di sumber air tawar itu mati semuanya.

Ia nggak bisa berada di titik nyaman yang nggak pasti. Saya salut. Manusia sekarang siapa sih yang mau lepas dari titik nyaman? Manusia sekarang siapa sih yang mau berada dalam ketidaknyamanan, padahal sejatinya ketidaknyamanan itu untuk mencari titik aman?

Pi hidup. Pi mampu bertahan, dengan segala kemauan dan keberaniannya.

Saya pulang dengan hati puas. Biar tadi denger suara ngorok nggak tau diri di kursi sebelah. Biar kacamata 3D saya melorot dan bikin senewen karena nggak bisa nonton dengan tenang. Biar saya bangkrut edan abis nonton ini dan mau cari makan gratisan besok.

Hmmm,berani keluar dari zona nyaman menuju ketidaknyamanan untuk mencari kenyamanan yang abadi? Hidup itu berputar adanya. Tuhan pasti punya rencana, nggak Cuma buat Pi, pasti juga iya buat saya. Amin.

Coldplay – Charlie Brown

I stole a key,Took a car downtown where the lost boys meet

I took a car downtown and took what they offered me.

To set me free

I saw the lights go down at the end of the scene,

I saw the lights go down and they’re standing in front of me.
In my scarecrow dream

When they smashed my heart into smithereens,

Be a bright red rose come bursting the concrete.

Be a cartoon heart,Light a fire, light a spark

Light a fire, a flame in my heart.

We’ll run wild,[ From:  ]We’ll be glowing in the dark.

All the boys, all the girls,

All that matters in the world All the boys, all the girls,All the madness that occurs.
All the highs, all the lows,As the room is spinning, oh We’ll run wild,We’ll be glowing in the dark.
So we’ll run wild,We’ll be glowing in the dark.

http://www.metrolyrics.com/charlie-brown-lyrics-coldplay.html

Setiap membuka Jet Audio, lagu ini yang terputar. Sudah lebih dari 24 jam. We’ll glowing in the dark.